
10 Agu Penjelasan Lengkap Penyebab Airbag Mobil Kadang Tidak Mengembang
Penjelasan Lengkap Penyebab Airbag Mobil Kadang Tidak Mengembang
Saat terjadi kecelakaan lalu lintas, salah satu fitur keselamatan yang paling diharapkan untuk bekerja menyelamatkan nyawa adalah SRS Airbag (Supplemental Restraint System). Namun, tak jarang kita melihat atau mendengar kasus di mana mobil mengalami benturan cukup parah, tetapi airbag-nya tidak mengembang (deploy). Kondisi ini sering kali menimbulkan prasangka bahwa sistem keselamatan mobil tersebut rusak atau gagal produksi. Padahal, pada kenyataannya, tidak semua jenis benturan dirancang untuk memicu ledakan airbag. Komputer mobil (Airbag Control Unit/ACU) bekerja berdasarkan kalkulasi algoritma yang sangat ketat.
Berikut penjelasan lebih detil mengenai berbagai penyebab mengapa airbag mobil tidak mengembang saat terjadi insiden.
Benturan Tidak Memenuhi Syarat Intensitas
Komputer ACU tidak mendeteksi benturan berdasarkan tingkat kerusakan bodi luar mobil, melainkan dari kecepatan perlambatan mendadak dan sudut arah datangnya benturan. Airbag umumnya dirancang untuk meledak hanya jika kendaraan mengalami benturan setara dengan menabrak tembok beton keras pada kecepatan minimal 20–30 km/jam. Jika benturan terjadi pada kecepatan rendah, sabuk pengaman dan struktur penyerap benturan (crumple zone) mobil dianggap sudah cukup untuk melindungi penumpang tanpa perlu memicu ledakan airbag. Untuk front airbag, sensor biasanya ditempatkan untuk mendeteksi benturan dari arah depan dengan sudut offset sekitar 15 hingga 30 derajat dari garis lurus moncong mobil. Jika mobil dihantam dari sudut samping, menyamping diagonal, atau dari belakang, sensor depan tidak akan memberikan sinyal ke ACU untuk melepas airbag depan.
Karakteristik Objek yang Ditabrak
Jenis dan sifat benda yang ditabrak oleh mobil berpengaruh besar terhadap seberapa cepat kendaraan berhenti. Jika mobil menabrak tiang listrik yang roboh, semak-semak tebal, pagar kayu, atau bagian belakang kendaraan lain yang ikut terdorong maju, gaya perlambatan yang dirasakan oleh sensor benturan berkurang secara drastis. Karena gaya benturan terdistribusi secara bertahap, komputer menganggap benturan tersebut belum membahayakan nyawa penumpang.
Kejadian “underrun” (meluncur ke bawah truk) adalah salah satu skenario kecelakaan paling berbahaya. Ketika mobil menabrak bagian belakang truk besar yang tinggi, moncong mobil meluncur ke bawah bak truk. Kerusakan fisik pada kap mesin dan kaca depan bisa sangat parah, namun karena sasis utama (frame) bawah mobil belum menghantam benda keras, sensor benturan di bagian bawah atau depan tidak menerima gaya tekan yang cukup untuk memicu airbag.
Jenis Kecelakaan Bukan Tabrakan Frontal
Setiap jenis airbag dirancang untuk skenario kecelakaan tertentu:
• Mobil Terguling: Jika kendaraan tidak dilengkapi dengan Curtain Airbag yang memiliki sensor rollover, maka front airbag biasa tidak akan mengembang saat mobil terguling, karena sensor tidak mendeteksi adanya benturan keras searah dari depan.
• Ditabrak dari Belakang: Saat ditabrak dari belakang, tubuh penumpang akan terdorong ke belakang menempel pada sandaran kursi. Mengembangkan airbag depan pada kondisi ini justru dapat membahayakan penumpang karena kantong udara akan menghantam wajah yang sedang bergerak kembali ke depan.
Pengemudi atau Penumpang Tidak Menggunakan Sabuk Pengaman
Pada banyak kendaraan modern yang menggunakan sistem keselamatan terintegrasi (Advanced SRS), modul airbag terhubung secara langsung dengan sensor sabuk pengaman (seatbelt buckle sensor). Jika sensor mendeteksi bahwa sabuk pengaman tidak diklik/dipasang, komputer ACU pada beberapa konfigurasi mobil akan secara otomatis menahan/membatalkan pengembangan airbag, atau mengembangkannya dengan tingkat kecepatan yang berbeda. Ledakan airbag meluncur keluar dengan kecepatan hingga 300 km/jam. Jika tubuh penumpang tidak tertahan oleh sabuk pengaman, posisi tubuh akan terlalu dekat dengan penutup airbag saat meledak. Hantaman kantong udara berkecepatan tinggi ini pada tubuh yang tidak tertahan justru dapat menyebabkan patah leher atau cedera fatal.
Gangguan Sistem Kelistrikan dan Sensor
Meskipun jarang terjadi, masalah teknis pada komponen kelistrikan mobil dapat menyebabkan sistem keselamatan ini gagal berfungsi:
• Kerusakan pada Kabel Spiral: Komponen pita kabel melingkar di dalam roda kemudi ini menghubungkan kelistrikan tombol-tombol setir dan modul airbag pengemudi. Jika clock spring putus atau aus, arus listrik untuk memicu inflator airbag tidak akan sampai.
• Sensor Benturan Rusak atau Terkorosi: Sensor yang berada di area bumper depan rentan terkena cipratan air, lumpur, atau benturan ringan sebelumnya yang dapat merusak jalur kabelnya.
• Lampu Indikator SRS Diabaikan: Jika pada dashboard mobil Anda lampu peringatan airbag (logo orang memangku balon atau tulisan SRS) menyalakan sinyal kuning/merah terus-menerus, itu tanda bahwa ACU mendeteksi adanya malfungsi pada sistem. Dalam kondisi ini, sistem keselamatan otomatis berada dalam mode disable (nonaktif).
Baca Juga : Cara Kerja dan Jenis-jenis Airbag
Sensor Bobot Penumpang
Pada kursi penumpang depan mobil-mobil keluaran baru, terdapat sensor berat (Occupant Detection System/ODS) yang tertanam di dalam busa jok. Jika jok penumpang depan tidak mendeteksi adanya beban, atau beban yang terdeteksi terlalu ringan (misalnya ditempati oleh barang belanjaan, tas, atau anak kecil), komputer akan menonaktifkan airbag sisi penumpang depan secara otomatis untuk menghemat biaya perbaikan serta mencegah risiko bahaya bagi anak-anak.