Pahami Arti Shear Stability dan Perubahan Viskositas Oli di Mesin

Pahami Arti Shear Stability dan Perubahan Viskositas Oli di Mesin

Pahami Arti Shear Stability dan Perubahan Viskositas Oli di Mesin

Memahami performa oli mesin kendaraan bukan sekadar melihat viskositas di label botol, seperti 0W-20 atau 10W-40. Ternyata ada sifat mekanis yang sangat menentukan apakah pelumas tersebut mampu bertahan menghadapi tekanan ekstrem di dalam mesin, yaitu shear stability (kestabilan geser).

Ada baiknya kita pahami lebih dulu artinya, shear stability adalah kemampuan molekul pelumas untuk mempertahankan tingkat kekentalannya meskipun menerima tekanan mekanis dan daya geser (shear stress) yang sangat tinggi secara terus-menerus.

Di dalam mesin, oli tidak sekadar mengalir, tetapi “digiling” dan diapit di antara komponen logam yang bergerak sangat cepat seperti di antara ring piston dan dinding silinder, bantalan poros engkol, atau mekanisme katup. Jika oli memiliki shear stability yang buruk, gaya geser ini akan merusak struktur molekul oli, menyebabkannya encer secara prematur, dan kehilangan daya lindungnya.

Sejatinya, viskositas oli tidak pernah bersifat konstan. Begitu masuk ke dalam mesin dan dioperasikan, kekentalan oli akan berubah secara dinamis akibat suhu, gaya geser mekanis, dan kontaminasi kimia.

Seperti yang kita ketahui, oli modern umumnya berjenis multigrade, misalnya SAE 5W-30 atau 10W-40. Angka pertama sebelum huruf ‘W’ untuk Winter menunjukkan ketebalan oli saat suhu dingin, sedangkan angka kedua menunjukkan ketebalan oli pada suhu kerja mesin (sekitar 100°C).

Baca Juga : Pengaruh Viskositas Oli Terhadap Performa Mesin Mobil

Untuk menjaga agar oli tidak terlalu encer saat mesin panas, produsen menambahkan aditif Viscosity Index Improver (VII) berupa polimer berantai panjang. Saat dingin, molekul polimer mengkerut (coil), sehingga oli mengalir lancar saat nyala awal. Sedangkan saat panas polimer mengembang (uncoil), menghambat molekul dasar oli bergerak terlalu bebas, sehingga viskositasnya terjaga.