
23 Feb Bahaya Cairan Rem Tercampur Air dan Cara Mencegahnya
Bahaya Cairan Rem Tercampur Air dan Cara Mencegahnya
Cairan rem adalah “nyawa” dari sistem pengereman kendaraan. Ada satu musuh tersembunyi yang sering dianggap sepele namun sangat mematikan yaitu, air.
Cairan rem bersifat higroskopis, artinya ia memiliki sifat alami untuk menyerap kelembapan dari udara. Sifat higroskopis ini baik, karena mencegah kandungan “air bebas” yang bisa merusak komponen pengereman. Namun jika kandungan air sudah terlalu banyak, performa rem akan menurun drastis. Berikut adalah penjelasan mengenai bahaya cairan rem bercampur dengan air dan cara mencegahnya.
Ketika air masuk ke dalam sistem rem, terjadi dua masalah teknis utama yang membahayakan keselamatan. Pertama adalah gejala vapor lock atau rem blong. Ini adalah bahaya yang paling fatal. Cairan rem dirancang untuk tahan panas tinggi. Namun, air memiliki titik didih yang jauh lebih rendah (100°C). Saat kita mengerem terus-menerus (misalnya di jalan menurun), suhu rem meningkat. Air yang tercampur akan mendidih dan berubah menjadi gelembung uap udara. Karena uap bisa dikompresi, maka saat kita menginjak pedal rem, tekanan hanya akan menekan uap tersebut tanpa menggerakkan kampas rem. Hasilnya? Pedal rem terasa kosong dan rem blong.
Bahaya kedua adalah korosi pada komponen internal pengereman. Air memicu karat pada bagian dalam sistem rem yang terbuat dari logam, seperti piston rem, master silinder, bahkan modulator ABS pada kendaraan dengan sistem rem ABS. Karat ini bisa menyebabkan kebocoran seal atau macetnya piston rem.
Lantas bagaimana mencegah cairan rem tercampur dengan air? Tips pertama yang bisa dilakukan adalah jangan biarkan tabung reservoir terbuka dalam waktu yang lama. Setiap kali kita mengecek cairan rem, pastikan tutup reservoir segera dipasang kembali dengan rapat. Udara di sekitar kita mengandung uap air. Semakin lama tabung terbuka, semakin banyak uap air yang terserap. Kemudian gunakan cairan rem dari kemasan yang tersegel. Hindari menggunakan cairan rem sisa yang sudah disimpan berbulan-bulan di garasi dalam kondisi botol terbuka. Cairan tersebut kemungkinan besar sudah menurun kualitasnya, karena telah banyak menyerap kelembapan udara.
Baca Juga : Penyebab Dan Gejala Booster Rem Mobil Rusak
Hal yang tidak kalah penting adalah ganti cairan rem secara berkala. Saran umum dari pabrikan adalah mengganti cairan rem setiap 2 tahun atau 20.000 km. Meskipun kendaraan jarang dipakai, cairan rem tetap akan menyerap air seiring berjalannya waktu. Terakhir, cek juga kondisi karet penutup tabung reservoir cairan rem. Pastikan tidak sobek atau melar. Karena jika seal rusak, udara luar akan masuk dengan mudah ke dalam sistem yang memicu kelembaban dan uap air..