
28 Feb Asal Cerita Setir Mobil Indonesia Ada di Sisi Kanan
Asal Cerita Setir Mobil Indonesia Ada di Sisi Kanan
Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa kemudi mobil di Indonesia berada di sebelah kanan, sementara negara seperti Amerika Serikat atau sebagian besar Eropa menggunakan setir kiri? Jawaban singkatnya, Kita mewarisi kebiasaan dari masa kolonial Belanda.
Anggapan umum yang beredar bahwa Indonesia hanya “ikut-ikutan” Inggris, penggunaan setir kanan di Indonesia sebenarnya berakar dari masa penjajahan Belanda. Awalnya, Belanda pun menggunakan sistem setir kanan (jalur kiri). Napoleon Bonaparte memang sempat membawa pengaruh aturan lalu lintas jalur kanan (setir kiri) ke negara-negara jajahannya di Eropa, namun Belanda yang saat itu di bawah pengaruh Prancis akhirnya kembali ke kebiasaan lama mereka setelah bebas dari pengaruh tersebut. Ketika Belanda membawa kendaraan pertama kali ke Hindia Belanda (Indonesia) pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, mereka membawa standar “jalur kiri, setir kanan” tersebut ke sini.
Apa alasan Belanda memilih menggunakan jalur kiri (setir kanan)? Ternyata ada teori historis yang menarik terkait hal ini. Pada abad pertengahan, ksatria menunggang kuda dengan tangan kanan memegang pedang. Mereka lebih memilih berjalan di sisi kiri jalan agar tangan kanan mereka yang memegang senjata selalu menghadap lawan yang datang dari arah berlawanan. Kusir kereta kuda biasanya duduk di sisi kanan agar tangan kanan (tangan dominan) bebas mencambuk kuda tanpa mengenai penumpang. Posisi ini memaksa mereka untuk mengambil sisi kiri jalan agar tetap bisa melihat lalu lintas dengan jelas.
Setelah Indonesia merdeka, muncul pertanyaan: Haruskah kita beralih ke setir kiri seperti banyak negara lain agar lebih modern? Ada beberapa alasan praktis mengapa Indonesia tetap mempertahankan setir kanan.
Mengubah posisi setir berarti harus mengubah seluruh tata letak rambu lalu lintas, desain persimpangan, dan pola arus kendaraan di seluruh negeri. Biayanya sangat mahal dan logistiknya luar biasa rumit. Saat itu, industri otomotif di kawasan Asia Tenggara (terutama negara persemakmuran Inggris seperti Malaysia dan Singapura) sudah mapan dengan standar setir kanan. Menyesuaikan diri dengan tetangga regional jauh lebih efisien secara ekonomi. Masyarakat sudah sangat terbiasa dengan posisi tersebut. Mengubah aturan lalu lintas yang sudah mengakar dalam budaya sehari-hari berisiko meningkatkan angka kecelakaan secara drastis dalam jangka pendek.
Baca Juga : Posisi Setir Mobil Belok Saat Parkir, Merusak Power Steering?
Menariknya, meskipun Indonesia berada di pihak “minoritas” jika dilihat secara global, kita berada di golongan yang cukup besar di kawasan Asia dan Pasifik, yang membuat rantai pasok otomotif kita tetap efisien.