
14 Jan 5 Alasan Coolant Mobil Harus Diganti Berkala
5 Alasan Coolant Mobil Harus Diganti Berkala
Tidak sedikit pemilik mobil yang kerap luput atau menunda penggantian cairan radiator alias coolant, padahal kebiasaan ini dapat memicu kerusakan mesin yang fatal dan mahal. Seperti yang kita ketahui, coolant bukanlah sekadar air berwarna. Cairan ini adalah formulasi kimia yang dirancang untuk melindungi mesin Anda dari dua ancaman terbesar yakni overheating dan kerusakan internal. Berikut kami sampaikan lima alasan utama mengapa penggantian coolant secara berkala adalah suatu kewajiban.
Degradasi Aditif Anti-Korosi
Coolant modern mengandung paket aditif khusus, seperti inhibitor korosi, yang berfungsi melindungi komponen logam di dalam mesin, radiator dan pompa air dari karat dan korosi. Seiring waktu pemakaian dan siklus panas, aditif pelindung ini akan terdegradasi dan habis efektivitasnya. Ketika proteksi ini hilang, air di dalam sistem pendingin akan mulai bereaksi dengan logam, menyebabkan karat terutama pada blok mesin besi. Selain itu juga bisa menyebabkan korosi, terutama pada radiator dan kepala silinder aluminium. Korosi ini tidak hanya merusak komponen, tetapi serpihan karat akan menyebar ke seluruh sistem yang memperburuk kerusakan.
Mencegah Endapan dan Sumbatan
Ketika coolant telah habis masa pakainya dan terkontaminasi kotoran, minyak atau sisa karat, maka akan terbentuk endapan lumpur atau kerak yang keras. Endapan ini dapat menumpuk di area penting, terutama pada inti radiator yang menyumbat saluran tipis yang dilewati air, sehingga mengurangi kemampuan radiator membuang panas. Selain itu penyumbatan juga bisa terjadi pada saluran kecil mesin dengan menghambat aliran coolant ke area vital mesin. Ditambah kerusakan seal dan baling-baling pompa air. Sumbatan ini secara langsung menyebabkan suhu mesin meningkat drastis, berisiko tinggi memicu overheating.
Menjaga Titik Didih
Salah satu fungsi utama coolant adalah meningkatkan titik didih cairan pendingin jauh di atas 100°C . Hal ini sangat krusial karena mesin mobil beroperasi pada suhu yang sangat tinggi. Ketika coolant lama tidak diganti, konsentrasi glycol (bahan utama yang menaikkan titik didih) akan berkurang atau coolant bercampur dengan air biasa/mineral. Akibatnya, titik didih menurun.
Jika titik didih terlalu rendah, cairan pendingin akan mendidih di dalam sistem, menciptakan uap air. Gelembung ini tidak bisa mendinginkan mesin seefektif cairan, yang lantas menyebabkan titik-titik panas dan mesin menjadi overheat.
Melindungi dari Pembekuan
Mungkin hal yang satu ini tidak relevan untuk negara tropis seperti Indonesia. Nyatanya, coolant juga mengandung antifreeze (anti beku). Coolant berbasis ethylene glycol atau propylene glycol memastikan cairan pendingin tidak membeku saat suhu lingkungan turun di bawah titik beku air. Jika Anda tinggal di daerah pegunungan yang bersuhu sangat dingin, coolant yang terdegradasi kehilangan kemampuan ini dan air yang membeku dapat menyebabkan pecahnya radiator atau bahkan blok mesin.
Baca Juga : Fungsi Radiator coolant yang Sering Diremehkan Pemilik Mobil
Cegah Kerusakan Komponen Non-Logam
Selain melindungi logam, coolant juga berperan menjaga material non-logam seperti selang karet, gasket dan seal dari kerusakan. Coolant yang sudah asam dan terdegradasi dapat mempercepat kerusakan pada material karet dan plastik tersebut, membuatnya menjadi getas dan rapuh. Hal ini meningkatkan risiko kebocoran pada selang atau gasket, yang pada akhirnya akan mengosongkan sistem pendingin dan menyebabkan mesin overheat dalam waktu singkat.